Senin, 05 Oktober 2020

Fitnah Lelaki Ganteng


Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosialisasi, mencari sumber informasi juga hiburan. Di Indonesia pengguna internet pada tahun 2020 mencapai 64 % dari jumlah penduduk, atau sekitar 175, 4 juta jiwa.

Data riset dari We Are Social di atas juga mengatakan bahwa pengguna internet usia 16-24 tahun rata-rata menghabiskan waktu hampir 8 jam untuk berinternet.  Bayangkan anak-anak kita yang remaja ternyata sepertiga waktunya setiap hari menggunakan internet. Kondisi pandemi covid 19 menjadikan seluruh proses belajar mengajar dari tingkat dasar sampai PT menggunakan internet.

Setelah belajar, ternyata para remaja ini juga berselancar di dunia maya.  Media sosial yang paling banyak diakses adalah youtube mencapai 88% dan whatshapp 83%. Banyak informasi dan hiburan langsung diakses oleh para remaja tadi. Orang tua kini tidak bisa mengontrol apa saja yang dikonsumsi oleh putra-putrinya. Sekali klik, mereka bisa menjelajah apapun yang membuat mereka tertarik dan penasaran.

Ada fenomena yang cukup menarik di dunia hiburan yang biasa diakses oleh remaja lewat internet. Diantaranya adalah kehadiran berbagai boyband yang menjadi idola para remaja baik putri maupun putra, namun kebanyakan penggemarnya adalah remaja putri. Mereka banyak yang terpukau oleh penampilan dan suara para boyband terutama yang berasal dari Korea. Tak jarang mereka mengagumi dan histeris oleh ketampanan para entertain laki-laki tersebut.

Fenomena laki-laki yang membuat para perempuan tergoda bukan merupakan hal baru di muka bumi ini. Al-Quran dalam surah Yusuf ayat 31 menceritakan hal ini:  Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya (Nabi Yusuf), mereka terpesona  kepada (keelokan rupa)nya dan mereka (tanpa sadar) melukai tangannya sendiri.

Siti Zulaikha seorang perempuan bangsawan yang rupawan juga memiliki suami yang berkedudukan tinggi, ternyata tergoda oleh nabi Yusuf. Bahkan para perempuan istri pejabat yang dikumpulkan Siti Zulaiha pun begitu terpesona dan tergoda saat memandang nabi Yusuf sehingga mereka tanpa sadar memotong jari mereka sendiri.

Laki-laki yang menggoda dan menguji iman para perempuan ini dalam sejarah ternyata pernah ada. Laki-laki bisa menjadi fitnah bagi perempuan. Demikian pula perempuan bisa menjadi fitnah bagi laki-laki.

Kata fitnah dalam bahasa Arab berarti cobaan atau ujian. Perempuan seringkali disebut sebagai fitnah bagi laki-laki, mereka dianggap penggoda dan penguji iman. Anggapan ini semakin diperkuat dengan dukungan dari teks-teks hadis, misalnya sabda Rasulullah Saw:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرُّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah perempuan. (HR Muslim)

Hadis ini bila dipahami secara tekstual memang seolah menjadikan perempuan sebagi sumber fitnah. Ini menjadi salah satu sumber stereotype (pelebelan) negatif perempuan. Perempuan sering disalahkan dengan berbagai alasan. Dilarang keluar rumah, pergi sendirian, pulang malam hari dan lain sebagainya karena akan menjadi sumber fitnah. Bila terjadi perkosaan, maka ini terjadi karena perempuan yang menggoda. Sedangkan sang pelaku justru menganngap dirinya sebagai “korban” dari fitnah perempuan.

Laki-laki dan perempuan merupakan subjek yang sama dalam konsepsi fitnah. Keduanya bisa menjadi pelaku, dan pada saat yang sama bisa menjadi korban. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah meletakan pemaknaan teks hadis ini pada arus utama ajaran Islam. Bahwa kehidupan ini, seluruhnya adalah ujian untuk meningkatkan kebaikan dan menjaga diri dari keburukan. (QS al-mulk ayat 1-2). Segenap kehidupan ini artinya mencakup laki-laki dan perempuan.

Langkah kedua adalah menangkap pesan moral dari teks hadis tersebut, yaitu menjaga diri dari kemungkinan terjerumus pada fitnah atau pesona. Dalam teks tersebut, yang diajak bicara jelas laki-laki, sehingga yang disebutkan adalah fitnah perempuan bagi mereka.

Langkah ketiga atau terahir adalah membalik bahwa fitnah/pesona juga bisa ditimbulkan oleh laki-laki kepada perempuan. Sehingga perempuan juga diminta waspada dan menjaga diri. Artinya teks hadis ini berbicara persoalan yang sesungguhnya timbal balik mengenai pentingnya menjaga diri dari kemungkinan terjerumus akibat pesona orang lain.

Fenomena laki-laki dan perempuan yang bisa menjerumuskan seseorang kepada perbuatan yang tidak baik mudah kita temukan di media sosial. Tingginya pengguna internet di negri ini terutama kalangan remaja membuat kita harus semakin awas. Internet hari ini menjadi kebutuhan pokok. Pekerjaan dan belajar dilakukan melalui media ini di era pandemi covid 19.

Meningkatkan komunikasi dengan para remaja apakah anak kita, keluarga kita atau anak didik kita merupakan hal yang tidak bisa ditawar. Menjadi teman untuk mendengarkan dan menjadi orang terdekat mereka sehingga bisa memberi arahan agar mereka bisa waspada terhadap potensi fitnah yang mereka temukan di internet.

Fitnah perempuan bukan sedang membangun keburukan perempuan. Sebagaimana fitnah laki-laki bukan sedang menegaskan kebejatan laki-laki. Tetapi tentang pentingnya kewaspadaan masing-masing, satu sama lain agar tidak saling tergoda pada tindakan tindakan nista, salah dan buruk.

Sumber bacaa: Qiraah Mubadalah Kiai Faqihuddin Abdul Qadir

 

 

  

Sabtu, 03 Oktober 2020

Serba Serbi Daring

Semester ganjil di tahun ajaran 2020/2021 sudah berlangsung mau dua minggu. Kali ini tiga mata kuliah kembali saya ampu. Setiap mata kuliah disajikan pada dua kelas. Agama dan Gender untuk jurusan Akidah dan Filsafat Islam (AFI) semester 7, Filsafat Sosial di AFI semester 5 dan Bahasa Indonesia di jurusan Studi Agama-Agama semester 1. Sejak awal, perkuliahan dilakukan secaran daring. Menggunakan e-learning UIN Bandung dibackup dengan zoom dan wag. 

Mengajar bagi saya merupakan panggilan jiwa. Hampir setiap melakukannya saya bahagia. Bertemu para mahasiwa secara daring tak menyurutkan kebahagiaan itu. Menatap wajah para mahasiswa melalui layar laptop, mendengarkan celotehan mereka yang ramai, menjawab berbagai pertanyaan juga menyimak presentasi dan ekspresi mereka semua. 

Pandemi covid 19 yang melanda dunia ini membuat berbagai proses belajar mengajar dilakukan secara daring. Adaptasi yang dilakukan semester lalu, membuat semester ganjil kali ini lebih mudah dan terbiasa menggunakan sistem belajar daring, meski tentu saja banyak keterbatasan di sana sini. 

Kesungguhan para pengajar dan pembelajar menurut saya betul-betul diuji. Mulai dari harus menyediakan kuota, mengatasi permasalahan jaringan provider yang mungkin di rumah tidak begitu bagus sehingga harus mencari lokasi yang kuat jaringannya sampai menyiapkan kesabaran karena ganguan teknis maupun non teknis.

Bagi saya pengajar, terus terang awalnya merasa aneh karena seolah saya berbicara sendiri saat mengajar daring. Kadang ada rasa jengkel ketika melihat beberapa mahasiswa terlihat di layar laptop seperti tak peduli. Bahkan ada juga yang mematikan video entah mereka menyimak atau tidak. Padahal mengajar daring memerlukan persiapan yang lebih matang dari pada mengajar di kelas. 

Selalu ada hal yang baik di tengah keterbatasan yang terjadi. Salah satunya sistem belajar daring membuat saya bisa belajar dimanapun dan kapanpun dengan berbagai tokoh-tokoh yang kajiannya saya minati. Berbagai webinar hampir setiap hari ada. Kita tinggal memilih mau mengikuti yang mana. Saya bisa belajar sambil rebahan di atas kasur. Menatap wajah para pembicara dan menyimak kuliah mereka.  

Beberapa webinar kadang mengundang saya sebagai narasumber maupun moderator. Ini juga merupakan pengalaman yang cukup berharga. Kesempatan ini saya pergunakan sebaik-baiknya untuk belajar menyampaikan isi pikiran saya tentang tema yang diberikan. Beberapa ada yang berjalan dengan baik. Beberapa ada yang kacau karena jaringan, atau bahkan kesalahan memberi file yang keliru yang baru saya sadari setelah presentasi. Sangat memalukan memang. Semoga bisa terus belajar dari kesalahan yang dilakukan.

Di masa pandemi covid 19 ini, saya juga diminta untuk membuat video ceramah oleh beberapa pihak. Sampai saat ini saya belum rutin melakukannya. Rasanya tenaga terkuras habis karena sering diulang-ulang untuk mendapatkan hasil ceramah yang lancar dan baik. Belum waktu untuk mengonsep apa yang diminta juga bukan perkara mudah ditengah kesibukan dan waktu yang sangat terbatas. 

Tulisan kali ini memang refleksi dari bagaimana pengalaman saya mengajar dan belajar secara daring. Tetiba malam ini saya ingin menuliskannya begitu saja. Membagikan apa yang saya rasakan dan pikirkan. Ya kembali mengabadikan diri di blog ini. Sayang kan saya rutin membayar domain kalau tidak diisi hehehe. Semoga saja bisa kembali rajin menulis disini. Selamat istirahat para pembaca....

Fitnah Lelaki Ganteng

Pandemi covid 19 membatasi interaksi sosial manusia. Hal ini membuat semakin banyak orang yang menggunakan internet sebagai media bersosia...